Monday, October 20, 2008

aku ayah sejati...

Ketika muda dulu, apa pun kudapatkan. uang, mobil, rumah, apapun... kudapatkan tanpa perlu susah payah bekerja. untuk apa...?? aku bisa mendapatkan semua itu hanya dengan sedikit meminta... aku mengenyam pendidikan hingga magister ekonomi. ga perlu repot2 belajar, cuma dengan uang... siapapun bisa lulus. siapapun butuh uang. sampai suatu hari aku bertemu seorang wanita penunggang kuda di pesisir pantai bunaken.

Menikahinya adalah hal mudah. apapun aku punya. apapun bisa aku beli. apapun yang dia minta selalu bisa ku kabulkan. dan dia jatuh cinta padaku... itu sudah pasti. ketika itu aku menikahinya secara diam2 karena dari pihak keluarganya maupun keluargaku tidak ada yang merestui. ayahnya pun mungkin terpaksa menikahkan aku dengannya. aku ga peduli. selama uang masih mengalir di tangan ku... apapun bisa aku raih.

Hingga akhirnya lahirlah seorang anak perempuan dari pernikahan kami. waktu itu aku tidak menemani istriku yang sedang melahirkan anak pertamaku. aku sibuk mencari uang. karena uang bisa mengubah apapun. lagi pula aku lebih suka tanpa anak. tidak repot ini itu. ga perlu memikirkan makan nya, sekolahnya, pakaiannya, atau apa lah itu...

memang, uang bukan masalah bagiku, selama aku bekerja sebagai kepala cabang sebuah bank pemerintah di manado. tapi aku merasa terlalu sibuk untuk memiliki seorang anak. apalagi di kantor ku, aku harus tetap berstatus belum menikah. ya sudah lah... bohong sana bohong sini sudah menjadi kebiasaan sehari hari. hingga suatu hari komisaris perusahaan ingin berkunjung ke rumahku, aku berpesan pada istriku agar tidak mengakui aku sebagai suaminya. harus mengakui aku sebagai kakak iparnya. dan anakku sebagai keponakanku.

Tapi ketika atasanku datang kerumahku, istriku tidak mau melaksanakan rencana yang sebelumnya kami susun rapih. hasilnya...?? aku di pecat saat itu juga. bersamaan dengan lahirnya anak keduaku. seorang anak laki laki.

Karena aku telah kehilangan pekerjaan ku, aku memutuskan untuk pindah ke Cirebon. Sebuah kota kecil yang tenang, tempat sembunyi yang aman dari para debt collector yang selalu mengejar dengan tampang beringas karena hutang yang ku buat belum bisa kubayar.

Mengapa harus kubayar? toh yang menikmati uang itu bukan hanya aku. anakku pun menikmatinya. istriku juga. mangapa hanya aku yang membayar..?

dikota itu aku mulai lagi kehidupanku yang dulu. aku hidup menumpang di rumah kosong milik kakak ku. yah lumayan.. dari pada tidak ada rumah sama sekali... lagi pula kakakku meminjamkan aku sebuah mobil. mulanya aku betah dengan hidup yang sederhana ini. tapi aku mulai muak ketika apa yang aku inginkan sekarang tidak bisa langsung di penuhi. aku berspekulasi dengan uang pesangon yang kudapatkan dulu. tapi bagaimana dengan anak istriku...?? ah... bagaimana nanti sajalah... toh mereka sudah biasa hidup susah...

hingga akhirnya spekulasiku dengan uang pesangon berakhir tidak seperti yang ku inginkan. aku di tipu mentah mentah... uang itu semuanya di bawa kabur

aku pulang dengan membawa hutang yang besar. istriku menangis. saat itu anak ketiga ku lahir, seorang anak perempuan... semakin sempit sudah ruang hidup ku.

saat itu juga aku memutuskan untuk pergi ke jakarta ke rumah kakakku. untuk minta uang. karena aku hanya butuh uang. aku berangkat tanpa sepengetahuan mereka. aku tidak mau tahu nasib mereka. toh jika aku pulang nanti aku bisa bawa uang yang banyak. untuk kebutuhan hidup mereka juga kok...

setelah hampir setahun kutinggalkan, aku beberapa kali aku mendapat kabar dari cirebon, anak istriku beberapa kali didatangi debt collector yang dulu di manado. aku tidak heran. dan aku bingung harus berbuat apa. tapi aku pikir, mereka tidak akan apa apakan mereka. istriku pun mulai bisa membayar hutang2ku. baguslah. kudengar dia mulai berjualan kue. dan makan makanan yang dimasak dengan bahan bakar batang kelapa. baguslah... mereka bisa berhemat. aku pun sudah mengirimkan uang nafkah untuk mereka. setelah gajiku di potong untuk kebutuhan hidupku di jakarta. kebutuhan makan ku, baju ku, parfum ku, dan tentu saja ritual kehidupan hedonisku tidak boleh tertinggal...

setelah mendengar kabar hutangku sudah lunas, aku kembali ke cirebon. aku cape dijakarta. lagi pula aku rindu dengan tubuh istriku. berbeda dengan siapapun yang kutiduri di jakarta. aku pulang. kembali menjadi pengangguran. tidak apapa apa lah menurutku, toh istriku sudah mengasilkan uang untuk aku hidup. buktinya dia bisa membeli sebuah rumah dari hasil jualan kuenya.

aku kembali hidup enak. tapi tidak lama. usaha kue istriku mengalami kemunduran. aku harus kembali bekerja. malas rasanya. tapi ya sudah lah... kata orang orang sekitar itu adalah kewajiban ku...

aku kembali kejakarta untuk mencari pekerjaan. setelah lama meninggalkan jakarta, aku bingung .. jakarta sudah banyak berubah. ijasah S1 ku tidak begitu berpengaruh sekarang. tapi tidak lama aku ditawari untuk menjadi supir pribadi seorang pejabat. langsung aku terima. karena gaji yang di tawarkan melebihi gajiku dulu sewaktu menjabat sebagai kepala cabang.

tidakberapa lama, aku dipercaya untuk menjadi supir d salah satu perguruan tinggi swasta di kawasan pasar minggu. aku memboyong semua keluargaku, tapi tidak bisa karena anak sulung perempuanku masih setahun lagi lulus kuliah. hasilnya? keluargaku terpecah belah. tapi tak apa lah... toh mereka terbiasa hidup susah... aku tidak. sebisanya uang ku tahan supaya mereka tidak tau aku punya uang. aku punya hobi baru... j u d i ...

aku mulai kenal minuman keras. kusuruh anak lelaki ku membelikan itu untukku, kusuruh anak lelaki ku menjadi "kasir" untuk menemani ku berjudi. jika menang, kuberi dia sedikit uang. jika kalah, kusuruh dia meminta uang pada istriku. jika tidak di beri, kuajari dia mencuri.

ketika itu anak lelaki ku baru saja lulus SD. tidak ku masukkan SMP karena uang sekolahnya lebih suka ku gunakan untuk berjudi mengadu nasib. kalo aku menang, dia mau sekolah sampai mana juga akan aku bayar...

sudah dua tahun aku tidak menyekolahkan anak lelaki ku. istriku meledak amarahnya. ah... bukan urusan ku. hobiku lebih penting. kenapa sekarang dia bisa begitu sih? harusnya dia menyadari resikonya menikah denganku. anak sulung perempuan ku pun aku tidak tahu sudah lulus atau belum....

Belakangan aku tahu, anak pertama ku kuliah dari hasil keringatnya sendiri. baguslah, berarti aku berhasil menjadi orang tua. anak keduaku mulai kembali bersekolah atas biaya dari istriku yang bekerja sebagai buruh cuci dan buruh masak di sumah tetangga. melegakan sekali bagiku sewaktu dia bilang"saya tidak mau tahu sama sekali tentang kamu mulai saat ini, yang saya tahu hanya mencari uang menggantikan kamu sebagai kepala keluarga untuk menyekolahkan anak anak".

Silahkan saja... aku ga perduli. aku mulai jatuh cinta lagi pada seorang remaja kelas 3 SMA. ku biayai sekolahnya, kubelikan dia kalung emas 5 gram. tapi sial, surat pembeliannya ketahuan oleh istriku. berikut puisi puisi ku yang kubuat untuk nya. sial... aku ketahuan selingkuh... untuk pertama kalinya. masa bodo lah.

sekarang keluargaku sudah tercerai berai... tapi aku tak peduli. aku lebih suka jika aku bisa melepaskan mereka pergi. anak sulung ku mulai memisahkan diri. anak lelaki ku pergi dari rumah tidak tahu kemana. hasilnya, hidup ku perlahan2 kembali lebih ringan.

tapi anak bungsuku memaksa ku untuk membiayai kuliahnya. bah... uangku lagi yang menjadi korban... tapi ya sudahlah... kulakukan ini supaya aku terlihat baik dimata tetangga. kuputuskan untuk memasukkannya ke sebuah universitas di manado. lebih ringan biayanya. dan ntuk membayarnya...? aku harus memaksa istriku kembali berjualan kue untuk biaya hidup semuanya. adil bukan...? setidaknya untukku.

tapi sebelum semua rencana itu semua berjalan, seorang debt collector bertampang seram dari salah satu bank terkenal di jakarta mendatangi rumah kontrakanku. ya ampun...!! secepatnya aku sembunyi di wuwungan rumah sambil berpesan pada istri dan anakku untuk beritahu mereka bahwa aku tidak ada dirumah. kudengar sayup2 mereka membentak bentak anak istriku. tapi yang penting aku selamat.

semakin hari semakin banyak penagih yang datang mencariku. aku mulai merasa tidak aman. aku harus pergi dari sini. aku kabur . aku tak peduli mereka mau bilang apa pada para penagih penagih itu.

sudah 6 bulan aku tinggalkan mereka. aku tidak tahu lagi bagaimana kabar mereka. ah mereka kan sudah besar semua. sudah bisa mandiri. anak sulungku sekarang sudah bekerja di media. anak keduaku kudengar sudah bekerja di sebuah perusahaan design firm atau apalah itu aku tidak tahu. aku memang sembunyi. menumpang dari satu mesjid ke mesjid yang lain. lumayan bisa makan gratis, dapat uang lagi. tanpa kerja. setelah uang terkumpul, aku berangkat ke menado. tidak satu orang pun yang tahu. hingga aku tiba di rumah kakak iparku dari istriku. mereka memberitahukan keberadaan ku pada istriku. tentu saja dia menyusulku. minta pertanggung jawabanku. buat apa... aku sudah tidak punya uang lagi.

setelah menetap 2 bualan di manado, istriku mengajukan usul pada kakaknya untuk membuka toko kue dan makanan. untuk modal uang, kakak iparku yang menanggung, kami hanya modal tenaga. wah sebuah usul yang sangat menguntungkan sekali pikirku. aku tidak perlu lagi di kejar2 uang. ga perlu lagi pergi pagi pulang sore untuk bekerja. bisa lebih santai tentunya.

tapi 2 tahun kemudian, kesehatan ku menurun. aku terlalu banyak makan daging merah. kolesterol ku naik tajam. aku terkena stroke.

ini benar benar diluar perkiraan ku. tubuhku sangat sulit di gerakkan. pertama2 hanya bagian kanan yang sulit ku gerakkan. sekarang hampir seluruh tubuh ku serasa mati rasa. kakak ipar ku membawaku kerumah sakit. aku mendapatkan perawatan dan theraphy. uang pun habis. pengobatanku belum sempurna. anak ketigaku kuliahnya terancam berantakan. baru kali ini aku mengingat tuhan. aku teringat, aku tidak pernah mengenalkan agama pada anak anakku.

hingga akhirnya aku dikirim pulang kejakarta. bagaimana dengan hutang hutangku? bagaimana dengan para penagih penagih itu?? tapi aku lega setelah mendengar bahwa sisa hutangku sebanyak 40 juta telah di cicil oleh istriku dan anak pertamaku. dan aku di titipkan di rumah adik bungsuku. karena aku tidak mewariskan apapun pada anakku. aku tidak punya rumah untuk menetap. 1 tahun lebih aku tinggal di rumah adik bungsu ku. mungkin dia mulai tidak sanggup mengurusku. aku minta bantuan pada anak sulungku. dia bilang, dia sudah cukup menderita karena aku tidak pernah mengurusnya. aku minta tolong pada anak lelakiku, aku dapat jawaban yang sama. aku minta tolong istriku, dia bilang uang hasil jualan kue dimenado sudah habis untuk biaya berobat ku dan sekarang istriku sedang sibuk membayar hutangku disana dengan tenaganya.

suatu hari adikku bilang bahwa dia sudah tidak sanggup untuk mengurusku. aku akan di antar ke rumah anak lelakiku. bagaimana dia bisa menampungku...?? tapi adik ku tidak mau tahu itu. aku di antar hanya sampai depan jalan masuk menuju rumah anakku. aku disuruh jalan kesana. bagaimana mungkin..?? untuk bangun saja aku sulit setengah mati. bagaimana aku bisa jalan...?? jaraknya terlalu jauh. tapi tiba2 anak lelakiku muncul. dan langsung menggendongku sampai rumahnya dan menyediakan makan dan minum ku.

saudara saudara sedarah ku pun sampai sekarang sudah tidak mau tahu apakah aku masih hidup atau sudah mati. jangankan menengok, menelpon pun tidak. aku sudah di buang. kusadari itu. aku memang salah. aku ingin tobat. tapi aku tahu sudah terlambat. taubat hanya berlaku pada yang maha kuasa. tapi tidak bisa membalikkan keadaan menjadi lebih baik. karena tidak ada satupun yang bisa kulakukan sekarang selain menunggu mati. anakku, istriku, maaf kan aku nak... seandainya bisa ku ulang dari awal, aku hanya ingin menjadi seorang ayah sejati....

2 comments:

indonesiadua said...

ini kisah nyata bapak?

wow perjalanan hidup yang panjang, salut saya pak! sampai tak bergeming saya membaca kisahnya...

salam kenal..

HitmanSystem.com said...

Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang cara mengatasi hidup yang sulit atau kompleks, silakan baca artikel When Life Sucks di blog saya. Salam kenal, sobat.

Lex dePraxis
Romantic Renaissance